in ,

“Main dengan jiran, diaorang ambil anak dia untuk tidak dekat” – Frontliner Dipandang Hina Oleh Segelintir Masyarakat Indonesia

Ikuti kami di Facebook, Youtube, Twitter, and Instagram untuk berita terkini setiap hari.

Sekarang ini seluruh dunia kini meletakkan harapan tinggi terhadap barisan pekerja medik untuk memerangi wabak Covid-19 ini.


Mereka mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan jutaan manusia yang kini sedang terancam secara halus.

 

Stigma negatif sampai tak bagi anak sendiri bermain dengan anak mereka kerana takut kena jangkit Covid-19

Berbeza dengan waktu sekarang pekerjaan mereka kini begitu melelahkan, bahkan ada antara petugas ini meninggal dunia ketika merawat pesakit Coronavirus ni.

Ada yang sanggup berkorban masa sampai tak berani nak pulang ke rumah kerana bimbang nyawa orang yang tersayang.

Disebabkan terlalu bimbang, malangnya ada yang sampai ke tahap tak hargai kerja mereka dan memandang serong terhadap mereka.

Salah seorang petugas medik dari Indonesia yang dikenali sebagai Nurdiansyah mencerita detik-detik hiba dan dugaan yang dia bersama rakan sekerja lalui.

Menurut Tribun, Nurdiansyah mengaku sudah lebih sebulan tak bertemu ibunya di rumah, lantaran dengan khuatir membawa virus.

”Saya sudah sebulan lebih tidak bertemu orangtua. Karena memang saya khawatir dengan orang tua saya yang memiliki penyakit komorbid”

Lebih teruk lagi, masyarakat ada stigma negatif terhadap idirnya,, rakan sekerjanya ada yang sampai kena halau daripada rumah sewa.

Malah ada juga yang cepat buat andaian dekat keluarga pekerja ni.

”Ada teman saya yang anaknya diasingkan oleh anak tetangganya. Jadinya kalau anaknya main ke anak tetangga, anaknya tetangga diambil oleh orang tuanya untuk tidak dekat”

Tambahnya lagi, ada pula yang terkena jangkitan Covid-19 itu disebabkan nak merawat pesakit. Nurdiansyah begitu sedih apabila melihat rakan sekerja sendiri kini sedang dirawat.

“Beberapa teman ada yang dirawat bahkan berita-berita teman-teman yang tertular dari pasien, itu ada yang meninggal” 

Disebabkan itu Nurdiansyah berharap pemerintah di negara tersebut memberi perhatian lebih kepada para pekerja medik seperiti memberi kebajikan khusus tentang waktu kerja untuk perawat-prawat ini.

Nurdiansyah mengusulkan agar pemerintah menerapkan skema 14 hari kerja dan 14 hari cuti untuk mereka.

“Mungkin sekarang teman-teman bekerja seperti biasa, waktunya itu dari pagi sampai malam. Mungkin shiftnya juga biasa. Jadi kalau bisa pemerintah harapannya ada waktu memang kita bekerja tidak seperti biasa. Misalnya 14 hari masuk, 14 hari libur”

Katanya langkah ini mungkin dapat melindungi diri daripada virus dan menjaga kebajikan mereka. Hal itu juga akan memberikan peluang bagi pekerja medik untuk kembali ke keluarga masing-masing di waktu cuti yang cukup panjang itu.

Di samping soal shift bekerja, Nurdiansyah juga berharap agar pemerintah terus memerhatikan dengan lebih telitih terhadap alat kelengkapan perlindungan.

Nurdiansyah juga berharap pandemik ini segera hilang. Dia juga berpesan agar rakyat sentiasa melakukan social distancing supaya rantaian penyebaran Covid-19 boleh terputus.

 

Baca : “Dalam diam kerabat diraja jadi frontliner” – Puteri Sweden Tawarkan Diri Berkhidmat di Hospital Jaga Pesakit Covid-19

Ikuti kami di Facebook, Youtube, Twitter, and Instagram untuk berita terkini setiap hari.